Visi dan Misi Susunan Redaksi Profil Pembaca Data Teknis
Salam Redaksi Snap Shot IPTEK Healthy Life Sex Desire Automotive X-Pose Recommend IX Sport Beauty Life Tips and Tricks Mode Interior EDU-Guide Business Wisdom
Pluit dan Sekitarnya Kelapa Gading dan Sekitarnya Puri Indah dan Sekitarnya Alam Sutera, Gading Serpong, BSD

X-Pose


Dwi Ilalang

From Zero to Hero

Beragam profesi sudah ia jalani. Ia pernah menjadi pengamen. Pernah menjadi seksi repot sebuah “rombongan” pembuat film. Ia juga pernah menjadi seorang video editor. Kini, ia berprofesi sebagai seorang sutradara. Sebuah perjalanan hidup panjang, dan belum usai. Ia masih terus berkarya.

Profesi sebagai seorang sutradara tak pernah dibayangkan Dwi Ilalang sebelumnya. Lelaki kelahiran Lumajang, 29 April 1971, itu hanya menjalani hidup layaknya air yang mengalir. Kedatangannya ke Jakarta di akhir tahun 1991-an setidaknya mengamini hal itu.

Dwi datang ke Jakarta tak berbekal apapun, termasuk rencana. Ia memilih bilangan Blok M, Jakarta Selatan, sebagai destinasi nasibnya ketika itu. Di kawasan yang dikenal sebagai tempat nongkrongnya pekerja seni Jakarta ini, Dwi melakoni profesi sebagai pengamen. Profesi ini dijalaninya terus sampai pada sekitar tahun 1993.

“Buat aku, saat itu kerjaan apapun aku jalanin, yang penting halal,” ujar Dwi saat ditemui di sela-sela syuting video klip tiga artis besutan Lars Sound of Indonesia di kawasan Cinere, Jakarta Selatan.

Di tahun 1993 inilah keberuntungan mulai menghampiri Dwi. Saat itu ada sebuah “rombongan” pembuat film yang sedang syuting di Blok M. Ia memberanikan diri untuk menghampiri rombongan itu dan menyatakan niatnya untuk bergabung. Gayung pun bersambut. Dwi diterima bekerja sebagai “seksi repot”. Tugasnya: menggulung kabel, mengangkat-angkat lampu, dan mengangkut-angkut barang-barang property syuting.

“Dari situlah, mas, aku belajar banyak tentang dunia film dan produksi karya audio-visual lainnya,” ujar Dwi.

Sampai saat ia bertemu dengan almarhum Abdi Wiyono. Aktor dan sutradara era 80-an inilah yang sesungguhnya membuka jalan untuk Dwi menuju dunia yang ia geluti saat ini. Dwi banyak berguru pada sosok Abdi Wiyono, mulai dari editing film hingga ke teknik penyutradaraan. Sampai akhirnya kini ia benar-benar menjadi seorang sutradara.

Ia tak lantas menjadi kacang yang lupa kulitnya. Ia memilih bersikap open minded dan, kata orang-orang terdekatnya, low profile. Maka, ia pun tak sungkan membagi ilmunya dengan kru-kru lain yang notabene adalah bawahannya, beberapa di antaranya masih terbilang anak muda. Tetapi Dwi hanya menyayangkan minimnya apresiasi generasi muda Indonesia terhadap film negeri sendiri, dan cenderung menggandrungi film produksi Hollywood.

Sampai saat ini Dwi terhitung telah sekitar 17 tahunan bergelut di dunia film. Beberapa karya layar lebarnya antara lain adalah Sang Dewi (2007) dan The Maling Kuburans (2009). Selain itu, Dwi Ilalang juga pernah menggarap beberapa FTV, miniseri, sinetron, dan video klip.

Impian Piala Oscar

Saat ditanya tentang spesialisasi dan segmentasi bidang garapan sineas Indonesia saat ini, Dwi mengaku tidak setuju dengan ide yang menurutnya hanya ‘mengkotak-kotakkan’ diri sendiri dan rejeki. Dwi memang tampaknya seorang pragmatis sejati. Ia berkarya memang bukan untuk idealisme semata, ia melakukannya atas nama pencarian nafkah.

Tetapi, ada satu hal yang menarik. Di sela-sela obrolan tentang pragmatisme itu, Dwi juga sempat menuturkan obsesi terbesarnya: karyanya bisa, setidaknya, masuk nominasi Piala Oscar.

“Saya yakin ini merupakan impian semua sineas di dunia, termasuk saya. Mereka ingin karyanya diapresiasi oleh orang-orang yang sangat berkompeten di film. Ukurannya jelas, Piala Oscar,” tutur Dwi.

Begitulah Dwi Ilalang. Sineas muda Indonesia yang mengidolakan sosok sutradara James Cameron ini telah bertransformasi dari sekadar penonton menjadi pemain di jagat industri film Indonesia. Maju terus, Dwi! Maju terus film Indonesia. (BHR)